Selasa, 19 April 2011

JENIS-JENIS PENGOBATAN ADHD


Jenis Jenis Pengobatan ADHD

Posted in Uncategorized on Maret 9, 2010 by rohimahyati
- Stimulan merupakan obat yang paling banyak dipergunakan untuk ADHD. Dalam kelompok stimulan terdapat AdderallÆ
(gabungan garam dari amphtamine), DextroStatÆ (dextroamphetamine sulfate), dan RitalinÆ (methylphenidate HCL).
Stimulan bereaksi cepat dan efek sampingnya ringan. Disebut stimulan karena bisa memberikan energi bagi mental untuk memusatkan perhatian pada apa yang sedang dikerjakan. Pengobatan ada yang diberikan dalam dosis dobel dalam sehari.
- TCA (Tri-Cyclic Antidepressants) merupakan jenis anti depresi. TCA sangat efektif untuk mengatasi suasana hati yang berubah-ubah dan diminum hanya satu kali dalam sehari. Namun TCA bekerja lebih lambat dan lebih berisiko dalam penggunaannya. Jika pengobatan dengan stimulan tidak menolong TCA boleh dicoba.
- Wellbutrin ( buproprion ) merupakan jenis antidepresan yang telah dipergunakan dalam pengobatan ADHD meskipun belum mendapat persetujuan dari FDA. Obat ini bukan TCA, tetapi mempunyai kegunaan dan efek samping yang sama.
- Catapres (clonidine) dulunya dipergunakan untuk pengobatan penyakit darah tinggi. Obat ini dipergunakan dalam pengobatan ADHD, terutama bagi penderita gejala hiperaktif dan impulsif, meskipun juga belum mendapat persetujuan FDA. Obat ini berbentuk kecil atau pil. Anak-anak yang diberi Catapres akan menjadi ngantuk.
Sumber :
http://www.nityabersama.co.cc/2008/11/adhd-keterlambatan-tumbuh-kembang-anak.html

Cara Cepat Mengenali ADHD

Posted in Uncategorized on Maret 9, 2010 by rohimahyati
Etiologi (Penyebab)
1. Faktor lingkungan/psikososial, seperti:
a. Konflik keluarga.
b. Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai.
c. Jumlah keluarga yang terlalu besar.
d. Orang tua terkena kasus kriminal.
e. Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat).
f. Anak yang diasuh di penitipan anak.
g. Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok saat hamil, dan alkohol.

2. Faktor genetik
Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin (D2 dan D4) pada kromosom 11p.

3. Gangguan otak dan metabolisme
a. Trauma lahir atau hipoksia yang berdampak injury pada lobus
frontalis di otak.
b. Pengurangan volume serebrum.
c. Gangguan fungsi astrosit dalam pembentukan dan penyediaan
laktat serta gangguan fungsi oligodendrosit.

Manifestasi Klinis
1. Gangguan pemusatan perhatian (inattention)
a. Jarang menyelesaikan perintah sampai tuntas.
b. Mainan, dll sering tertinggal.
c. Sering membuat kesalahan.
d. Mudah beralih perhatian (terutama oleh rangsang suara).

2. Hiperaktivitas
a. Banyak bicara.
b. Tidak dapat tenang/diam, selalu bergerak.
c. Sering membuat gaduh suasana.
d. Selalu memegang apa yang dilihat.

3. Impulsivity
a. Sering mengambil mainan teman dengan paksa.
b. Tidak sabaran.
c. Reaktif.
d. Sering bertindak tanpa dipikir dahulu.

Riwayat yang Diduga ADHD:
1. Masa infant
- Anak serba sulit
- Menjengkelkan
- Serakah
- Sulit tenang
- Sulit tidur
- Tidak ada nafsu makan

2. Masa prasekolah
- Terlalu aktif
- Keras kepala
- Tidak pernah merasa puas
- Suka menjengkelkan
- Tidak bisa diam
- Sulit beradaptasi dengan lingkungan

3. Usia sekolah
- Sulit berkonsentrasi
- Sulit memfokuskan perhatian
- Impulsif

4. Adolescent
- Tidak dapat tenang
- Sulit untuk berkonsentrasi dan mengingat
- Tidak konsisten dalam sikap dan penampilan

Penatalaksanaan
1. Farmakoterapi
a. Methylphenidate
b. Amphetamine
c. Atomoxetine
d. Pemoline
e. Nortriptyline

2. Terapi behaviour
Terapi cognitive behaviour untruk membantu anak dengan ADHD untuk beradaptasi skill dan memperbaiki kemampuan untuk memecahkan masalah.

3. Kombinasi 1 dan 2
4. Rutin komunitas care
Prognosis
Kurang baik.

Tahukah Anda?
1. Istilah ADHD pertama kali diperkenalkan oleh dr Heinrich Hoffman pada tahun 1845.
2. ADHD terjadi pada 3-5% dari populasi anak.
3. Rasio ADHD pada anak pria : anak wanita = 3:1.
4. Pengobatan ADHD tahap pertama dilakukan selama 14 bulan, lalu tingkah laku dievaluasi oleh orang tua, guru, dan lingkungan.
5. Gejala aggressive-impulsive pada ADHD terjadi akibat penurunan kadar serotonin 5-HIAA.

Kontroversi Seputar Terapi ADHD

Posted in Uncategorized on Maret 9, 2010 by rohimahyati
Keraguan tentang perlunya pengobatan medis untuk ADHD kini sudah berhasli ditepis. Studi MTA menunjukkan, kombinasi terapi psikofarmakologi dan prilaku memberi efek lebih baik.
Sejak diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Heinrich Hoffman pada 1845, attention deficit hiperactivity disorder (ADHD) kerap mengundang kontroversi di kalangan medis. Dulu, ADHD belum diakui secara resmi sebagai suatu penyakit atau gangguan. Hingga menjelang 1902, Sir George F. Still mempublikasikan satu seri karya yang menjelaskan ADHD secara ilmiah. Dia menerbitkan panduan untuk mahasiswa kedokteran di Royal College of Physicians, Inggris yang menggambarkan suatu grup anak impulsif dengan gangguan prilaku yang bermakna. Menurutnya, ADHD disebabkan oleh disfungsi genetik dan bukan oleh keterbelakangan seorang anak. Sejak itu, banyak paper ilmiah yang dipublikasikan hingga akhirnya ADHD resmi dinyatakan sebagai suatu penyakit .
Kontroversi tak berhenti hanya sampai di situ. Perdebatan pun terus bergulir. Mulai dari kriteria diagnosis, aspek penilaian dan pemilihan serta efektivitas dari pengobatan ADHD. Terakhir juga berkembang kontroversi, apakah penggunaan obat perlu diteruskan hingga dewasa atau tidak?
Kondisi demikian membuat ADHD menjadi “primadona.” Apalagi kasus ADHD cukup banyak dijumpai. Diperkirakan 2-3% anak di dunia mengalami ADHD. Di Amerika Serikat, ADHD menimpa sekitar 2 juta anak. Ini berarti dalam suatu kelas dengan 25-30 murid, setidaknya ditemukan seorang anak yang mengalami ADHD. Sementara di Jakarta, prevalensinya sekitar 26,2% (dengan kisaran usia 6-13 tahun). Biasanya, anak laki-laki lebih sering mengalami ADHD ketimbang anak perempuan (interval perbandingan 2,5:1 dan 5:1).DR.Dr.Dwijo Saputro, SpKJ, pada pertemuan nasional Indonesian Society for Biological Psychiatry, Pharmacological, and Sleep Medicine yang berlangsung di Twin Plaza Hotel, Jakarta, 24-25 Januari 2006 lalu mengatakan, ada tiga karakter utama pasien ADHD. Yaitu inatensi, hiperaktivitas, dan impulsif. Tanda atau ciri tersebut akan mudah dikenali serta tampak nyata pada usia prasekolah dan awal sekolah (7 tahun).
Menurut pria yang aktif di klinik pengembangan anak dan kesulitan belajar Smart-Kid yang beralamat di arteri Pondok Indah ini, seorang anak dengan ADHD susah untuk mengontrolperilakunya atau berkonsentrasi dengan satu hal. ADHD bukanlah suatu gangguan belajar namun gangguan hambatan prilaku.
Penyakit Genetik

Ada beberapa faktor yang dipertimbangkan bisa menyebabkan terjadinya ADHD. Di antaranya adalah defisit dari fungsi semisal respon inhibisi, kewaspadaan, dan kerja memori. Berdasarkan hasil studi Twins, diperkirakan 60-94% ADHD diperoleh dari keturunan. Hal ini dibuktikan melalui studi genome scan yang menemukan bahwa penanda (marker) pada kromosom 4,5,6,8,11,16,17 dan DRD4, merupakan kandidat gen untuk ADHD. Sementara faktor non genetik yang bisa menyebabkan ADHD adalah perinatal stres, BBLR, cedera otak, dan merokok selama hamil.
Untuk menegakkan diagnosa ADHD seorang klinisi harus mempelajari riwayat pasien, mencari informasi dari sekolah, melakukan wawancara diagnostik, dan membuat rating scales. Adapun kriteria diagnosa yang digunakan bervariasi. Belum ada standar atau kriteria yang sama untuk ADHD. Namun yang paling banyak digunakan adalah kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV). DSM-IV mendefinisikan 3 subtipe ADHD, yakni kombinasi, predominan inatensi, dan predominan hiperaktif/impulsif. Pengelompokkan ini didasarkan pada pola gejala yang muncul dalam 6 bulan sebelumnya.
Terapi Kombinasi Terbaik

Tatalaksana ADHD bisa ditempuh dengan tiga cara, yakni terapi psikofarmakologi, terapi perilaku, dan terapi kombinasi. Sebuah studi dengan Multimodal Treatment of ADHD (MTA) menemukan bahwa pengobatan yang paling efektif untuk ADHD adalah tipe kombinasi. Yakni dengan pemberian psikofarmakologi dibarengi dengan terapi perilaku.
Sebenarnya, untuk jangka waktu lama pada terapi psikofarmakologi telah berkembang suatu kontroversi besar. Yaitu penggunaan stimulan untuk mengatasi gejala inti ADHD. Beberapa pakar menentang penggunaan stimulan karena khawatir bisa menimbulkan efek ketagihan (abuse). Namun beberapa studi belakangan malah menunjukkan hal yang berbeda. Selain bisa mengatasi gejala inti ADHD dan menetralkan overaktivitas emosi, ternyata stimulan cukup aman digunakan jika tetap dimonitor. Akhirnya stimulan banyak diresepkan.
Saat ini tersedia beberapa jenis stimulan. Misalnya saja, methylphenidate (MPH) dengan lama kerja singkat, sedang, dan panjang serta dextroamphetamine dengan masa kerja panjang. Dua formulasi yang paling mutakhir adalah campuran garam amphetamine (75% dextroamphetamine dan 25% levoamphetamine). Pemoline, suatu stimulan dengan masa kerja panjang, sekarang sudah jarang digunakan karena efek hepatoksisitas fatal (meskipun jarang).
Pemberian stimulan berespon pada 50-75% kasus. Dan stimulan yang banyak diresepkan dan paling popular adalah MPH. MPH diberikan dalam tiga dosis: rendah 15mg/hari atau 0,3mg/kg/hari, sedang 16-34mg/hari atau 0,5mg/kg/hari, dan tinggi >34mg/hari atau 1mg/kg/hari. Dosis maksimum MPH adalah 60mg/hari. MPH tidak boleh digunakan untuk anak usia di bawah 6 tahun.
Studi terbaru menemukan bahwa ada obat lain yang bisa digunakan untuk ADHD di samping stimulan. Yakni antidepresan trisiklik (imipramin, desipramin), bupropion, dan agonis alfa adrenergik (klonidin). Imipramin diberikan dengan dosis 1mg/kg/hari (maksimum < 4mg/kg atau 200mg). Untuk berat badan kurang dari 50 kg, dosis bupropion adalah 3-6mg/kg/hari (150mg – 300mg/hari).
Terapi Jangka Panjang

Pemberian terapi psikofarmakologi harus terus diberikan sepanjang gejala masih ada dan menyebabkan gangguan. Mengingat terapi digunakan dalam waktu yang cukup panjang, maka pasien dengan ADHD harus melakukan follow up yang teratur untuk evaluasi pengobatan. Evaluasi ini berguna untuk memastikan apakah obat yang diberikan masih efektif, menentukan dosis optimal, dan meyakinkan efek samping yang timbul tidak signifikan secara klinik.
Jika tak satupun dari terapi psikofarmakologi yang memberikan efek memuaskan pada pasien dengan ADHD, maka klinisi harus melakukan review diagnosis secara seksama. Setelah itu mempertimbangkan pemberian terapi perilaku di samping memberi terapi obat alternatif lain. Jika pasien ADHD memperlihatkan respon yang baik terhadap terapi psikofarmakologi dengan memperlihatkan fungsi normal pada akademik, keluarga, fungsi sosial, maka pemberian terapi psikofarmakologi tunggal saja sudah cukup.
Hal yang sangat perlu ditekankan dalam pemberian psikofarmakologi adalah monitoring efek samping. Pasalnya, sebagian besar terapi berlangsung untuk jangka waktu lama. Adapun efek samping yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan stimulan adalah penurunan nafsu makan, kehilangan berat badan, insomnia, sakit kepala sebagian besar, tics, dan terkadang kelabilan emosis. Sementara TCA biasanya bisa menimbulkan mulut kering, sedasi, konstipasi, pandangan blur atau kabur, dan takikardi (gejala antikolinergik). Sedangkan antagonis alfa bisa menyebabkan sedasi, pusing, hipotensi, penghentian mendadak bisa menimbulkan rebound hypertension yang berbahaya, depresi sekitar 5%, hiperglikemi, terjaga pada malam hari, mimpi buruk, dan teror di malam hari. SUMBER : FARMACIA

BOLA TERAPI LATIHAN KOORDINASI OTAK DENGAN METODE BRAIN GYM BAGI ANAK ADHD (ATTENTION DEFICIT HIPERACTIVITY DISORDER)

Posted in Uncategorized on Maret 3, 2010 by rohimahyati
ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hiperactivity Disorder. Merupakan salah satu gangguan dari kelainan otak disertai hiperaktifitas. ADHD dapat terdeteksi dari umur 3-7 tahun. Deteksinya dilakukan secara intensif karena terjadi tumpang tindih antar gejala yang terlihat. Pada dasarnya anak ADHD terlihat normal, tidak ada kelainan fisik padanya. Berbeda dengan autis, anak ADHD dapat disembuhkan. Melalui rehabilitasi medis (terapi), pengobatan medis, kemudian penyembuhan alternatif seperti balur, Brain Gym, olahraga ataupun bermain musik. Saat ini banyak yayasan dan sekolah khusus dibangun pemerintah sebagai wadah pendidikan serta tempat penyedia sarana terapi bagi anak-anak yang mengalami ADHD. Anak ADHD mengalami kesulitan untuk fokus dan berlaku berlebihan (hiperaktif) yang dapat mengganggu teman-temannya. Melihat dari permasalahan tersebut, maka pada proyek tugas akhir ini, penulis ingin memberikan solusi dalam penyembuhan anak ADHD melalui metode Brain Gym yang dipercaya dapat memberikan efek baik kepada anak ADHD. Metode yang digunakan dari Brain Gym adalah metode untuk latihan koordinasi otak. Latihan koordinasi otak ini ditujukan untuk melatih fokus anak ADHD. Latihan koordinasi ini terdiri dari kegiatan menjaga keseimbangan (“the rocker”), gerak silang (“cross crawl”), dan gerak mendorong (“calf pump”). Namun, Brain Gym saat ini dilakukan tanpa menggunakan alat. Sulit sekali mengajak anak ADHD melakukan Brain Gym karena mereka tidak mau diam dan sulit mengikuti gerakan instruktur dengan baik. Oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang dapat menarik perhatian anak ADHD agar mereka mau melakukan Brain Gym. Dalam proyek tugas akhir ini, penulis membuat produk yang secara tidak langsung dapat membuat anak berlatih koordinasi yang secara garis besar diterapkan melalui metode Brain Gym. Produk juga memiliki fungsi untuk relaksasi. Relaksasi memang bermanfaat untuk mengatasi hiperaktifitas anak ADHD. Biasanya relaksasi pada anak ADHD dilakukan dengan cara memijat anak ADHD yang posisi tubuhnya tengkurap pada sebuah bola besar. Hal ini menjadi analisa yang dapat mempengaruhi bentuk produk. SUMBER : ITB LIBRARY

Bela Diri dan Anak ADHD: Mengatasi Gejala

Posted in Uncategorized on Maret 3, 2010 by rohimahyati
Gejala ADHD boleh memusnahkan bagi anak-anak. Hal ini terutama sukar bagi anak-anak usia sekolah yang merasa terisolasi dan tidak tahu bagaimana mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Mereka boleh menjadi cepat di belakang akademik dan sosial, yang mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri dan depresi.Masa kanak-kanak gejala ADHD boleh merangkumi kekurangan perhatian, hiperaktif dan impulsif. Salah satu cara orang tua membantu anak-anak mereka adalah dengan kereta api seni mempertahankan diri mereka. Ini adalah cara yang bagus untuk mengurangkan gejala ini dan mengatasi stres mereka penyebabnya.
THE SIMPTOM
1. Kekurangan perhatian.
Gejala pertama dari zaman kanak-kanak ADHD adalah ketidakmampuan untuk fokus dan kurangnya perhatian. Ini termasuk tidak mampu melaksanakan tugas, tidak mampu memusatkan perhatian pada apa yang orang lain katakan dan tidak mampu mengorganisasikan pikiran, tugas dan kegiatan.
2. Hiperaktivitas.
Gejala kedua masa kanak-kanak ADHD adalah hiperaktif. Anak-anak yang menderita gejala ini merasa perlu gelisah dengan tangan dan kaki mereka. Mereka juga cenderung untuk bangun dari tempat duduk mereka sering (bahkan ketika itu bukan waktu yang tepat) atau hanya merasakan dorongan untuk bergerak. Mereka juga cenderung untuk berbicara secara berlebihan dan selalu ‘on the go’.
3. Impulsif.
Gejala ketiga adalah impulsif masa kanak-kanak ADHD. Anak-anak yang mengalami kesulitan menunggu giliran, yang sering kali mengganggu dan yang menjawab soalan sebelum mereka telah selesai mungkin menderita gejala ini.
THE ‘PENYENGGARAAN’
Pelatihan seni mempertahankan diri boleh membantu meringankan pelbagai gejala ADHD. Melalui anak-anak belajar seni mempertahankan diri fizikal dan mental pengendalian diri melalui amalan dan disiplin diri. Kemampuan untuk mengendalikan tubuh mereka juga membantu mereka untuk mendisiplinkan fikiran mereka. Kedua kemahiran pakan daripada satu sama lain dan terbawa ke bahagian lain daripada kehidupan anda. Semakin banyak mereka belajar untuk mengendalikan tubuh mereka, semakin mereka boleh mengendalikan fikiran mereka. Semakin mereka boleh mengendalikan fikiran mereka, semakin mereka akan mampu mengendalikan tubuh mereka. Kawalan ini membawa ke bahagian lain daripada kehidupan mereka juga: Begitu mereka dapat mengawal tubuh mereka sementara latihan, mereka akan dapat mula mengendalikan dorongan mereka untuk bergerak dan gelisah. Hal yang sama berlaku untuk fikiran mereka. Saat mereka menjadi lebih disiplin diri, mereka akan mampu menumpukan dan fokus pada kegiatan sehari-hari mereka, sekolah dan hubungan.
Bahkan jika anak anda belum secara rasmi didiagnosis dengan ADHD, mereka mungkin mengalami beberapa atau bahkan banyak gejala. Jika demikian, anda berhutang kepada diri sendiri untuk mula mengurangkan stres dalam kehidupan mereka. Disiplin diri dan kesedaran diri yang diperlukan untuk melatih seni mempertahankan diri membantu anda tetap mengendalikan persekitaran anda dan kehidupan.Tempat terbaik untuk menemukan kemahiran ini adalah tentang seni mempertahankan diri yang baik sekolah. Mengapa tidak mencobanya? Kau tak perlu kehilangan dan semuanya untuk mendapatkan. Untuk membuatnya bahkan lebih mudah, saya akan membantu anda memulakan. Sila menghubungi saya dan saya akan menghantar laporan percuma saya tentang cara memilih sekolah seni mempertahankan diri. SUMBER:GLOBAL SUKAN REKREASI ARTIKEL WEBSITE

Menangani Anak ADHD

Posted in Uncategorized on Maret 3, 2010 by rohimahyati
Anak yang termasuk dalam kategori ADHD biasanya bercirikan sebagai berikut :
*
1. Inatensi ( sulitnya memusatkan perhatian )
2. Hiperaktif (tidak bisa diam / tidak bisa teratur )
3. Impulsive ( kesulitan dalam menunda respon,dorongan berbuat atau mengatakan sesuatu yang tidak sabar dan tanpa dipikirkan )

Biasanya anak yang ADHD sulit untuk bisa tertib, untuk itu cara kita dalam menangani atau menghadapi anak yang ADHD adalah sebagai berikut :
1. Menjaga kesehatan diri, karena dalam menghadapi anak yang ADHD kita membutuhkan energi.
2. Banyak belajar atau mencari tahu tentang ADHD agar kita dapat memahami atau membantu kesulitan anak tersebut.
3. Ajari mereka dengan sabar dalam berbicara kepada orang lain secara normal.
4. Membantu anak ADHD agar dapat menjaga diri mereka sendiri.
5. Bantu mereka atau mengajari mereka dalam tugas – tugas sekolahnya.
6. Kita harus bersabar, ikhlas, peka, tekun dan mempunyai ide yang kreatif agar dapat membantu anak ADHD dalam belajar memenuhi tugas di rumah atau di sekolah.

Penting sekali penangan anak hiperaktif sejak dini, karena hiperaktif dan gangguan perhatian bukan suatu gangguan yang dapat disembuhkan sepenuhnya. Anak-anak hiperaktif atau ADHD bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang berhasil, tapi ada pula yang sebaliknya hal ini terjadi karena tak ditangani sejak dini.
Bimbinglah anak tersebut menemukan keunggulan atau kekuatan sehingga mereka terlatih menghargai diri pribadi yang memiliki keunikan, yaitu kelebihan dan kekurangan. Jika tidak diberikan bantuan, anak akan berulang kali terperangkap pada lingkaran kegagalan, frustrasi, rendah diri, dan akan membuat dirinya selalu bermasalah.
Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan anak hiperaktif yang sulit memusatkan perhatian ini lebih cenderung memiliki gaya hidup kurang sehat, seperti merokok, minum alkohol. SUMBER :GETMYHOPE

PENERAPAN TERAPI “BACK IN CONTROL (BIC)” PADA ANAK ADHD (ATTENTION DEFICITS HIPERACTIVITY DISORDER)

Posted in Uncategorized on Maret 3, 2010 by rohimahyati
DEFINISI, PENYEBAB, DAN KARAKTERISTIK PERILAKU ANAK ADHD
Gangguan yang berupa kurangnya perhatian dan kiperaktivitas atau yang lebih dikenal dengan Attention Deficits Hiperactivity Disorder (ADHD) dapat kita temui dalam banyak bentuk dan perilaku yang tampak. Sampai saat ini ADHD masih merupakan persoalan yang kontroversial dan banyak dipersoalkan di dunia pendidikan. Beberapa bentuk perilaku yang mungkin pernah kita lihat seperti: seorang anak yang tidak pernah bisa duduk di dalam kelas, dia selalu bergerak; atau anak yang melamun saja di kelas, tidak dapat memusatkan perhatian kepada proses belajar dan cenderung tidak bertahan lama untuk menyelesaikan tugas; atau seorang anak yang selalu bosan dengan tugas yang dihadapi dan selalu bergerak ke hal lain.
ADHD sendiri sebenarnya adalah kondisi neurologis yang menimbulkan masalah dalam pemusatan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas, dimana tidak sejalan dengan perkembangan usia anak. Jadi disini, ADHD lebih kepada kegagalan perkembangan dalam fungsi sirkuit otak yang bekerja dalam menghambat monitoring dan kontrol diri, bukan semata-mata gangguan perhatian seperti asumsi selama ini. Hilangnya regulasi diri ini mengganggu fungsi otak yang lain dalam memelihara perhatian, termasuk dalam kemampuan membedakan reward segera dengan keuntungan yang akan diperoleh di waktu yang akan datang (Barkley, 1998).
Anak-anak dengan ADHD biasanya menampakkan perilaku yang dapat dikelompokkan dalam 2 kategori utama, yaitu: kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas.
Kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dapat muncul dalam perilaku:
a. Ketidakmampuan memperhatikan detil atau melakukan kecerobohan dalam mengerjakan tugas, bekerja, atau aktivitas lain.
b. Kesulitan memelihara perhatian terhadap tugas atau aktivitas bermain
c. Kadang terlihat tidak perhatian ketika berbicara dengan orang lain
d. Tidak mengikuti perintah dan kegagalan menyelesaikan tugas
e. Kesulitan mengorganisasikan tugas dan aktivitas
f. Kadang menolak, tidak suka, atau enggan terlibat dalam tugas yang memerlukan proses mental yang lama, misalnya: tugas sekolah
g. Sering kehilangan barang miliknya, misal: mainan, pensil, buku, dll
h. Mudah terganggu stimulus dari luar
i. Sering lupa dengan aktivitas sehari-hari

Sedangkan hiperaktivitas-impulsivitas sering muncul dalam perilaku:
a. gelisah atau sering menggeliat di tempat duduk
b. sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau situasi lain dimana seharusnya duduk tenang
c. berlari berlebihan atau memanjat-manjat yang tidak tepat situasi (pada remaja atau dewasa terbatas pada perasaan tidak dapat tenang/gelisah)
d. kesulitan bermain atau terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan
e. seolah selalu terburu-buru atau bergerak terus seperti mesin
f. berbicara terlalu banyak
g. sering menjawab pertanyaan sebelum selesai diberikan. (Impulsivitas)
h. kesulitan menunggu giliran (Impulsivitas)
i. menyela atau memaksakan pendapat kepada orang lain (Impulsivitas)

Terkadang gejala tersebut juga diikuti oleh agresivitas dalam bentuk:
a. sering mendesak, mengancam, atau mengintimidasi orang lain
b. sering memulai perkelahian
c. menggunakan senjata tajam yang dapat melukai orang lain
d. berlaku kasar secara fisik terhadap orang lain
e. menyiksa binatang
f. menyanggah jika dikonfrontasi dengan korbannya
g. memaksa orang lain melakukan aktivitas seksual

Menurut DSM-IV definisi ADHD sendiri adalah sebagai berikut:
A. (1) atau (2)
(1) memenuhi 6 atau lebih gejala kurangnya pemusatan perhatian paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan;
(2) memenuhi 6 atau lebih gejala hiperaktivitas-impulsivitas paling tidak selama 6 bulan pada tingkat menganggu dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan

B. Gejala kurangnya pemusatan perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul sebelum usia 7 tahun.
C. Gejala-gejala tersebut muncul dalam 2 seting atau lebih (di sekolah, rumah, atau pekerjaan)
D. Harus ada bukti nyata secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
E. Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasive, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dilihat bersama dengan gangguan mental lain (gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian).

Gejala-gejala yang muncul sebagai bentuk kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas terkadang berpengaruh terhadap pengalaman belajar anak karena anak yang menunjukkan gejala-gejala tersebut biasanya akan terlihat selalu gelisah, sulit duduk dan bermain dengan tenang, kesulitan terlibat dalam kegiatan yang mengharuskan antri, menjawab pertanyaan sebelum selesai ditanyakan, kesulitan mengikuti instruksi detail, kesulitan memelihara perhatian dalam waktu panjang ketika mengerjakan tugas, dan sering salah meletakkan barang.
Penelitian terakhir menyebutkan bahwa gejala-gejala pada anak ADHD muncul karena mereka tidak dapat menghambat respon-respon impulsif motorik terhadap input-input yang diterima, bukan ketidakmampuan otak dalam menyaring input sensoris seperti cahaya dan suara (Barkley, 1998).
Walaupun banyak penelitian sudah dilakukan namun sampai saat ini para ahli belum yakin apa penyebab ADHD, namun mereka curiga bahwa sebabnya berkait dengan aspek genetik atau biologis, walaupun mereka juga percaya bahwa lingkungan tumbuh anak juga menentukan perilaku spesifik yang terbentuk. Beberapa faktor yang banyak diduga memicu munculnya gejala ADHD adalah: kelahiran prematur, penggunaan alkohol dan tembakau pada ibu hamil, dan kerusakan otak selama kehamilan. Beberapa faktor lain seperti zat aditif pada makanan, gula, ragi, atau metode pengasuhan anak yang kering juga diduga mendukung munculnya gejala ADHD walaupun belum didukung fakta yang meyakinkan.
TRITMEN BAGI ANAK ADHD
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan ADHD, namun telah tersedia beberapa pilihan tritmen yang telah terbukti efektif untuk menangani anak-anak dengan gejala ADHD. Strategi penanganan tersebut melibatkan aspek farmasi, perilaku, dan metode multimodal.
Metode perubahan perilaku bertujuan untuk memodifikasi lingkungan fisik dan sosial anak untuk mendukung perubahan perilaku (AAP, 2001). Pihak yang dilibatkan biasanya adalah orang tua, guru, psikolog, terapis kesehatan mental, dan dokter. Tipe pendekatan perilakuan meliputi training perilaku untuk guru dan orang tua, program yang sistematik untuk anak (penguatan positif dan token economy), terapi perilaku klinis (training pemecahan masalah dan ketrampilan sosial), dan tritmen kognitif-perilakuan/CBT (monitoring diri, self-reinforcement, instruksi verbal untuk diri sendiri, dan lain-lain) (AAP, 2001).
Metode farmasi meliputi penggunaan psikostimulan, antidepresan, obat untuk cemas, antipsikotik, dan stabilisator suasana hati (NIMH, 2000). Harus diperhatikan bahwa penggunaan obat-obatan ini harus dibawah pengawasan ketat dokter dan ahli farmasi yang terus-menerus melakukan evaluasi terhadap efektivitas penggunaan dan dampaknya terhadap subjek tertentu.
Beberapa penelitian terakhir membuktikan bahwa cara terbaik untuk menangani anak ADHD adalah dengan mengkombinasikan beberapa pendekatan dan metode penanganan. Penelitian yang dilakukan NIMH terhadap 579 anak ADHD menunjukkan bahwa kombinasi terapi obat dan perilaku lebih efektif dibandingkan jika digunakan sendiri-sendiri. Tritmen multimodal khususnya efektif untuk meningkatkan ketrampilan sosial pada anak-anak ADHD yang diikuti gejala kecemasan atau depresi. Ternyata dosis obat yang digunakan lebih rendah jika diikuti dengan terapi perilaku daripada jika diberikan tanpa terapi perilaku.

TERAPI “BACK IN CONTROL (BIC)”
Program terapi “Back in Control” dikembangkan oleh Gregory Bodenhamer. Program terapi ini unik karena dikatakan lebih baik daripada intervensi reward/punishment bagi anak-anak dengan ADHD. Program ini berbasis kepada sistem yang berdasar pada aturan, jadi tidak tergantung pada keinginan anak untuk patuh. Jadi, program ini lebih kepada sistem training bagi orang tua yang kemudian diharapkan dapat menciptakan sistem tata aturan yang berlaku dirumah sehingga dapat merubah perilaku anak. Demi efektivitas program, maka nantinya orang tua akan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan proses yang sama bagi anaknya, ketika dia di sekolah. Orang tua harus selalu melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan dan konsisten atas program yang dijalankan. Begitu juga ketika program ini dilaksanakan bersama-sama dengan pihak sekolah maka orang tua sangat memerlukan keterlibatan guru dan petugas di sekolah untuk melakukan proses monitoring dan evaluasi.
Dalam program ini, tugas orang tua adalah:
1. Orang tua mendefinisikan aturan secara jelas dan tepat (kita perjelas apa yang kita mau, tidak kurang tidak lebih). Kita buat aturan sejelas mungkin sehingga pengasuh pun dapat mendukung pelaksanaannya tanpa banyak penyimpangan.
2. Jalankan aturan tersebut dengan ketat.
3. Jangan memberi imbalan atau hukuman pada sebuah aturan. Jalankan saja.
4. Jangan pernah berdebat dengan anak tentang sebuah aturan. Gunakan kata-kata kunci yang tidak akan diperdebatkan, misalnya “kamu harus….meskipun…..”

Beberapa masalah yang muncul dalam pelaksanaan program ini antara lain :
1. Kebanyakan orang tua kurang bersedia memberikan reward, sedikit yang benar-benar tidak memberikan hukuman.
2. Kebanyakan orang tua kesulitan menahan untuk berteriak ketika marah kepada anak mereka. Sebenarnya, hal ini justru membuat anak merasa menang dan mengalihkan anak dari aturan yang sebenarnya.

Demikian paparan ringkas tentang terapi BIC untuk penyandang ADHD dan untuk lebih jelasnya, saya mencoba menyusun satu program untuk satu kasus ADHD sebagai ilustrasi bagaimana terapi BIC diterapkan.
ILUSTRASI : KASUS BONA
Bona adalah anak laki-laki berusia 5 tahun dan bersekolah di sebuah TK ternama di Yogya. Penampilan fisiknya gemuk dan tinggi, jauh lebih besar dibandingkan teman-teman seusianya. Ayah ibunya bekerja sebagai karyawan swasta yang bekerja sepanjang hari sehingga Bona lebih banyak diasuh pembantunya. Bona dibawa ke sebuah biro konsultasi psikologi oleh ibunya karena adanya keluhan yang disampaikan pembantu, para tetangga, dan terutama guru-guru di sekolahnya. Pembantu rumah tangga di keluarga tersebut sering sekali berganti karena kebanyakan dari mereka tidak tahan dengan perilaku Bona yang selalu berlarian tanpa henti, membuat berantakan seluruh mainan tanpa menggunakannya untuk bermain (hanya dilempar-lempar kemana saja), sering memukul dan menendang tanpa alasan bahkan terkadang saat memegang benda juga digunakan untuk melempar atau memukul, makan sambil berlarian dan berantakan seluruh makanannya, tidak memperhatikan jika diberitahu sesuatu, suka berteriak-teriak kasar, dan membanting benda-benda terutama jika permintaannya tidak segera dipenuhi.
Orang tua Bona sering merasa tidak nyaman dan serba salah dengan tetangga karena hampir setiap hari ada saja tetangga yang mengadu tentang perilaku Bona kepada anak-anak mereka. Perilaku Bona yang merebut mainan temannya hingga rusak, Bona yang memukul temannya hingga benjol, Bona yang melempar-lempar batu mengenai kaca tetangga, sampai Bona yang memanjat pagar tetangga dan merusakkan tanaman hias mereka, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sementara itu guru di sekolah juga sering sekali menyampaikan keluhan tentang perilaku Bona di sekolah, bahkan Bona beberapa kali diantarkan pulang guru sebelum waktunya. Di sekolah, Bona terlihat kesulitan mengikuti proses belajar karena dia selalu saja berlari dan sulit sekali diminta duduk di kursinya. Guru dan teman-teman lain merasa terganggu karena setiap kali Bona diminta duduk, beberapa detik kemudian sudah berlari-lari lagi keliling ruang kelas sambil mengganggu temannya atau sampai keluar kelas. Ketika teman-temannya belajar mewarnai atau menggambar maka Bona akan meninggalkan kertas gambarnya dalam keadaan kosong atau dengan sedikit coretan yang terlihat asal-asalan. Bona juga sulit sekali diminta melakukan sesuatu oleh gurunya karena setiap kali gurunya berbicara, Bona tidak tahan mendengarkannya sampai selesai. Juga ketika guru mengajukan pertanyaan, terkadang Bona berteriak menjawab meski pertanyaan belum selesai, dan akhirnya jawabannya pun tidak tepat. Beberapa waktu terakhir bahkan gurunya secara implisit menyatakan bahwa Bona sebaiknya di pindah ke sekolah lain yang dapat menanganinya dengan lebih baik karena guru-guru di sekolahnya yang sekarang sudah kewalahan. Orang tuanya bingung sekali dengan kondisi ini sehingga merasa perlu minta bantuan tenaga terapis anak untuk membantu. Mengingat bahwa Bona adalah anak tunggal dan efek dari perilakunya sudah dipandang meresahkan maka ibunya berniat cuti selama beberapa bulan dari pekerjaannya untuk mengatasi masalah anaknya ini.

PROSES TATA LAKSANA PERILAKU BAGI BONA
A. TARGET PERILAKU
Mengingat usia Bona yang 5 tahun dimana kebutuhan sosialisasinya dengan teman sebaya sudah cukup tinggi dan hampir memasuki usia sekolah, sementara Bona masih memiliki masalah dalam memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas, maka beberapa perilaku yang menjadi target dalam perubahan perilaku ini adalah:
1. Mampu membereskan mainan dan barang-barang milik Bona sendiri.
2. Mendengarkan orang lain bicara sampai selesai.
3. Mengerjakan aktivitas sampai selesai.
Karena program ini berbasis pada sistem aturan maka perilaku yang menjadi target dapat beberapa (tidak hanya satu) dengan catatan setiap target perilaku akan dibuatkan aturan yang detil dan jelas tentang perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan (dalam program yang direncanakan).

B. RENCANA WAKTU
Waktu yang direncanakan adalah 6 bulan, mengingat bahwa selama waktu itu ibunya akan cuti dari kantor dan dapat secara penuh terlibat dalam program ini untuk terus berada di samping Bona. Waktu 6 bulan ini akan dibagi dalam beberapa tahap untuk memudahkan proses monitoring dan evaluasi.
Tahap pertama adalah training yang dilaksanakan oleh terapis bagi orang tua Bona untuk melatih mereka agar dapat menciptakan aturan dan mengelola program di rumah. Training ini dilakukan selama 1 minggu dilanjutkan dengan membuat program.
Minggu kedua orang tua Bona mulai membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi Bona di rumah dengan kontrol dari seluruh warga rumah termasuk pembantu. Jadi seluruh aturan ini secara detil dan jelas disosialisasikan kepada semua orang di rumah. Untuk memudahkan sosialisasi, orang tua Bona menempelkan aturan-aturan tersebut di beberapa tempat di dinding rumah.
Sejalan dengan sosialisasi maka aturan mulai dijalankan dengan monitoring setiap saat oleh ibunya Bona dibantu siapa saja yang di rumah. Evaluasi dilakukan oleh orang tua bersama pembantu setiap hari dan oleh orang tua bersama terapis setiap akhir minggu.

C. PELAKSANA PROGRAM
Program ini dilaksanakan oleh Ibu Bona sebagai manajer program dibantu oleh seluruh anggota keluarga dengan didampingi terapis anak sebagai pemandu program dan nara sumber proses.

D. PROGRAM YANG DIRENCANAKAN
Berdasarkan target perilaku tersebut di bagian A maka dibuatlah aturan-aturan yang detil tentang perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan dari Bona, yaitu:
1. Membereskan mainan dan barang milik Bona sendiri.
Aturan:
a. Memasukkan pensil, penghapus, dan buku ke tas setelah digunakan. (Tidak meninggalkan pensil, penghapus, dan buku di meja belajar, meja tamu, atau di ruang lain)
b. Mengembalikan mainan ke wadahnya setelah digunakan. (Tidak melempar-lempar mainan jika tidak digunakan. Jika melempar-lempar maka harus mengambil kembali dan dikembalikan ke wadahnya.)
2. Mendengarkan orang lain bicara sampai selesai.
Aturan:
a. Menunggu Bapak, Ibu, pembantu, atau teman selesai ketika sedang berbicara tanpa memotong.
b. Tidak pergi ketika Bapak, Ibu, teman, atau pembantu sedang berbicara kepada Bona.
c. Menjawab pertanyaan Bapak, Ibu, teman, atau pembantu jika sudah selesai diucapkan. (Tidak menjawab pertanyaan sebelum selesai.)
d. Menatap wajah Bapak, Ibu, teman, atau pembantu yang sedang berbicara kepada Bona. (Tidak memalingkan muka ketika diajak berbicara.)
3. Mengerjakan aktivitas sampai selesai.
Aturan:
a. Memasang-masang mainan lego sampai berbentuk sesuatu baru dilepas kembali. (Tidak berganti mainan sebelum selesai dimainkan.)
b. Menggambar sampai selesai. (Tidak berganti kertas gambar atau meninggalkannya sebelum gambar selesai dibuat.)
c. Mewarnai bentuk sampai selesai baru berganti kertas.
d. Makan sambil duduk sampai selesai. (Tidak makan sambil berlari-lari keluar rumah.)
Keseluruhan aturan ini disampaikan kepada Bona dengan jelas dan harus yakin bahwa Bona mengerti dengan jelas yang dimaksud dengan aturan ini. Aturan ini kemudian ditulis besar-besar dan ditempel di beberapa bagian rumah, seperti di kamar Bona, ruang bermain, dan dapur untuk selalu mengingatkan orang tua dan pembantu agar terus mendorong pelaksanaan aturan tersebut secara konsisten.

E. EVALUASI PROGRAM
Program bagi Bona ini akan selalu dievaluasi dan dimonitor menggunakan lembar evaluasi dan lembar monitoring yang dibuat saat perencanaan program (contoh lembar evaluasi dan lembar monitoring terlampir). Evaluasi dan monitoring dilakukan ibu Bona sebagai manajer program dan secara berkala akan didiskusikan bersama terapis untuk melihat efektivitas dan kemajuan program. SUMBER :ARTIKEL PSIKOLOGI KLINIS

Petunjuk Penanganan ADHD untuk Orangtua Terapi yang umum diberikan dalam penanganan ADHD:

Posted in Uncategorized on Maret 1, 2010 by rohimahyati
1. Terapi Perilaku
2. Farmakoterapi (Pemberian obat)
3. Terapi kombinasi (Terapi perilaku + pemberian obat)
Cara penanganan yang efektif

Untuk membantu keluarga membuat keputusan penting mengenai penanganan ADHD, National Institute for Mental Health (NIMH) melakukan penelitian yang paling mendalam yang pernah dilakukan untuk menilai penanganan ADHD. Penelitian ini dinamakan The Multimodal Treatment Study of Children with ADHD (MTA). Data dari penelitian ini memperlihatkan bahwa pemberian obat stimulan (methylphenidate – obat stimulan yang umum digunakan untuk ADHD) efektif dalam mengatasi gejala ADHD, baik secara tersendiri atau dalam kombinasi dengan terapi perilaku. Juga ditemukan bahwa penanganan yang meliputi obat lebih efektif terhadap gejala-gejala ADHD (seperti hiperaktifitas) dibanding terapi perilaku saja6.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa untuk kebanyakan anak dengan ADHD, obat-obatan secara dramatis mengurangi hiperaktifitas, memperbaiki perhatian, dan meningkatkan kemampuan untuk bergaul dengan orang lain.
Meskipun obat secara tersendiri terbukti mengobati ADHD, penelitian MTA memperlihatkan bahwa menggabungkan terapi perilaku dengan obat berguna dalam membantu keluarga, pengajar, dan anak dalam mengubah perilaku yang menimbulkan masalah di rumah dan di sekolah.

Terapi Psikososial / Terapi Perilaku
Terapi psikososial / terapi perilaku sendiri, seperti pelatihan kemampuan sosial atau terapi individual, tidak terbukti sama efektifnya dengan obat dalam mengobati gejala-gejala utama ADHD. Tetapi terapi perilaku sendiri dapat dianjurkan sebagai terapi awal bila gejala ADHD cukup ringan, diagnosa ADHD belum pasti, atau keluarga memilih terapi ini.

Apakah anak anda sedang makan obat atau tidak, terapi perilaku dapat membantu pengelolaan gejala-gejala ADHD dan mengurangi dampaknya pada anak anda.
Banyak orangtua mendapatkan bahwa cara terbaik untuk menggunakan tehnik ini adalah dengan bekerja sama dengan seorang terapis yang berpengalaman dalam masalah perilaku. Banyak dokter menganjurkan kepada orangtua dan penanggungjawab untuk mengikuti kelas / seminar bagi orangtua, terutama yang terfokus pada penanganan anak dengan ADHD.
Apakah anak saya bisa sembuh ?
Terapi dengan pemberian obat merupakan cara yang sangat efektif untuk mengatasi gejala ADHD, tetapi hanya bekerja apabila digunakan sesuai peresepan. Berbeda dengan antibiotik dan obat-obat sejenisnya yang dimakan dalam periode singkat untuk mengobati infeksi dan gangguan lain, obat ADHD tidak ada yang dapat menyembuhkan dalam jangka waktu yang singkat. Untungnya, kebanyakan anak dengan ADHD dapat mengalami perbaikan nyata dengan kombinasi obat-obatan dan terapi perilaku7.

Apakah ada risiko anak saya ketergantungan dengan obat ?
Sejumlah orang tua cemas bahwa obat ADHD akan menyebabkan anaknya mengalami ketergantungan. Hal ini

merupakan kesalah-pengertian yang umum menyangkut obat ADHD.
Menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA), anak yang menggunakan obat untuk mengobati ADHD akan lebih sedikit mengalami masalah penyalahgunaan zat dibanding anak ADHD yang tidak mendapatkan obat.

Bila digunakan secara tepat, obat ADHD golongan stimulan tidak menyebabkan ketergantungan.
Bagaimana saya menjelaskan obat kepada anak saya ?
Adalah penting bahwa anak anda mengerti tentang obat ADHD, mengapa diresepkan dan bagaimana obat dapat membantunya. Hal ini terlebih lagi penting bagi anak-anak yang lebih besar dan remaja, yang merasa khawatir akan menjadi “berbeda” karena mereka harus minum obat.
Anda mungkin bisa membandingkan makan obat ADHD dengan menggunakan kaca mata. Menggunakan kaca mata dapat membantu karena memperbaiki penglihatan, dan hal ini sama seperti obat ADHD yaitu memberikan kontrol tingkah laku yang lebih baik sehingga lebih mudah untuk fokus, memperhatikan, belajar dan berkelakuan baik.

Bagaimana pengaruh obat terhadap perasaan anak saya ?
Untuk kebanyakan anak, obat ADHD akan membuat mereka lebih tenang dan lebih mampu untuk fokus dan berkonsentrasi. Beberapa dari perubahan ini mungkin luput dari perhatian anak – meskipun orangtua dan guru dapat melihat perubahan tingkah laku yang positif bila obat bekerja dengan seharusnya. Obat ADHD seharusnya tidak mengubah kepribadian dasar anak meskipun membuatnya kurang hiperaktif dan lebih memperhatikan. Kadang anak melaporkan perasaan yang sedikit tidak biasa / berbeda waktu pertama makan obat ADHD, tetapi perasaan ini biasanya ringan dan akan menghilang.
Efek samping pengobatan dan cara mengatasinya
Beberapa efek samping yang paling sering dan dapat diperkirakan dari obat ADHD adalah berkurangnya nafsu makan, gangguan tidur, sakit kepala, nyeri lambung, dan iritabilitas (mudah marah). Efek samping ini biasanya membaik setelah beberapa bulan pengobatan.
Efek samping biasanya tidak membahayakan, tetapi semuanya harus dilaporkan kepada dokter yang mengobati – terutama bila menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengganggu kegiatan anak sehari-hari.
Efek samping sering kali dapat dikurangi dengan mengganti obat, menggunakan bentuk sediaan obat yang berbeda, menyesuaikan dosis, atau mengubah waktu makan obat.

Bagaimana cara terbaik mengatasi beberapa efek samping umum yang mungkin terjadi pada anak saya ?
Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mengurangi masalah yang disebabkan oleh efek samping terkait obat ADHD.

Berkurangnya nafsu makan: Beberapa jalan keluar dari penurunan nafsu makan antara lain memberikan obat setelah sarapan, memberikan anak porsi makan yang besar pada malam hari dimana kerja obat mulai berkurang atau tersedianya makanan bilamana anak merasa lapar. Bila nafsu makan anak berkurang untuk jangka waktu lama, anda dapat berkonsultasi kepada dokter yang merawat.
Gangguan tidur: Bila anak anda menggunakan obat ADHD dan mengalami masalah gangguan tidur, konsultasikan dengan dokter untuk memberikan obat pada jam yang lebih pagi setiap harinya.
Terlepas dari penyebab masalah tidur anak anda, merancang persiapan tidur yang sehat secara rutin akan membantu mereka untuk tidur. Aktivitas seperti mandi, sikat gigi, membaca, atau membacakan sesuatu sebelum tidur dapat membantu anak lebih santai. Juga hindari alat elektronik yang merangsang dan menyebabkan perhatian mudah beralih, seperti radio, komputer, dan televisi sebelum tidur.

Iritabilitas (mudah marah) & perburukan tingkah laku: Sejumlah anak yang mendapatkan obat ADHD
tampaknya bertambah iritabel (mudah marah) dan gejala-gejala ADHD meningkat waktu sore atau malam hari. Hal ini disebut sebagai “rebounding” oleh sejumlah dokter dan mungkin disebabkan oleh berkurangnya efek obat. Untuk mengatasi hal ini, dokter mungkin mengusulkan untuk menggunakan obat dengan masa kerja lebih panjang atau menambah stimulan lepas-langsung pada waktu sore / malam hari5.

Efek Samping lain: Apabila ada pertanyaan atau kekhawatiran mengenai efek samping lainnya, hubungi dokter yang merawat anak anda.
Apakah ada masa istirahat obat bagi anak saya ?
Di masa lalu, dokter sering menganjurkan agar anak istirahat dari makan obat ADHD setelah sekolah, akhir minggu, atau liburan sekolah. Sekarang dokter umumnya menganjurkan agar anak tetap makan obat ADHD sepanjang waktu supaya mendapatkan efek menguntungkan selama di rumah dan waktu bermain atau selama liburan, sehingga mereka tetap bisa beraktivitas dengan aman dan tidak mengganggu orang-orang disekitarnya9. Tetapi penghentian obat sementara atau pengurangan dosis obat dapat dipertimbangkan bilamana anak anda mengalami efek samping yang mengganggu.

Kapan penghentian obat diperbolehkan ?
Banyak anak yang didiagnosa ADHD akan mengalami masalah dengan satu atau lebih gejalanya pada masa kehidupan lebih dewasa. Dalam kasus ini, obat ADHD dapat dilanjutkan sampai dewasa untuk membantu mengatasi gejala tersebut.
Untuk kebanyakan lainnya, gejala ADHD berkurang seiring waktu saat mereka tumbuh mengatasi ADHD atau belajar mengkompensasi gejala perilaku mereka. Gejala yang paling cenderung berkurang seiring waktu adalah hiperaktifitas.

Beberapa tanda bahwa anak anda mungkin sudah siap untuk mengurangi atau menghentikan obat ADHD adalah:
1) anak anda sudah bebas gejala selama lebih dari satu tahun dengan obat,
2) anak anda semakin bertambah baik, dengan dosis obat yang tetap,
3) perilaku anak anda tetap baik meskipun melewatkan satu atau dua dosis obat, atau
4) anak anda mengembangkan kemampuan baru untuk berkonsentrasi.

Pilihan untuk menghentikan obat ADHD harus dibicarakan dengan dokter yang mengobati, guru, anggota keluarga, dan anak anda. Anda akan mendapatkan bahwa anak memerlukan dukungan khusus dari guru dan anggota keluarga untuk mempertahankan tingkah laku yang baik setelah obat dihentikan. Anda juga perlu untuk mengamati perilaku anak anda setelah obat dihentikan untuk memastikan gejala yang tersisa dapat ditangani.
Pengobatan yang belum terbukti
Apakah obat alternatif untuk ADHD, seperti diet khusus atau suplemen herbal, bermanfaat ?

Orangtua seringkali mendengar laporan tentang “pengobatan ajaib” untuk ADHD di televisi, majalah, atau sebagai iklan. Sebelum mempertimbangkan salah satu pengobatan untuk ADHD, perhatikan apakah sumber informasi ini tidak bias (memihak) dan apakah klaim yang dikemukakan valid (sahih), dan bicarakan dengan dokter yang merawat anak anda.
Beberapa pengobatan untuk ADHD yang sering dibicarakan tetapi belum terbukti adalah diet khusus, suplemen herbal, terapi homeopatik, terapi vision (penglihatan), penyesuaian kiropraktik, terapi infeksi ragi, obat-obat anti-mabuk-perjalanan, pelatihan metronom, stimulasi auditori (pendengaran), penerapan kinesiologi (menyusun-ulang tulang-tulang di tengkorak), dan biofeedback gelombang otak10.
Meskipun akan sangat baik bila pengobatan-pengobatan seperti ini memberikan hasil, riset ilmiah yang cermat tidak membuktikan bahwa alternatif-alternatif ini efektif dalam mengatasi gejala-gejala ADHD – dan yang pasti“menyembuhkan”.
Selalu ceritakan kepada dokter tentang setiap terapi alternatif, suplemen, atau obat bebas yang digunakan anak anda. Zat /obat-obat tersebut dapat berinteraksi dengan obat yang diresepkan dokter dan mengganggu kemajuan anak anda atau menimbulkan risiko pada keamanan anak anda.
Bila anda berencana untuk mencoba pengobatan ini, adalah bermanfaat untuk menggunakan penilaian keberhasilan yang sama yang akan anda gunakan terhadap obat yang disetujui oleh FDA. Termasuk skala penilaian perilaku dan target pencapaian spesifik yang anda tetapkan bila berkonsultasi dengan dokter yang merawat anak andA SUMBER : adhd.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar